Monday, July 26, 2021

Tugas Guru Penggerak Modul 2.2

 

Modul 2.2.a.4.1. Eksplorasi Konsep - PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

Oleh: Ni Putu Wahyuni
CGP Angkatan Ke-2, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali




Dialog tidak dapat terjadi tanpa kerendahan hati 

(Paulo Freire)



Pengantar Kasus:

Ibu Adriana telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Ibu Adriana merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Ibu Adriana sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Ibu Adriana juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  


Kasus 1: 

Saat itu jam pelajaran terakhir. Sebelum rapat panitia besar 17 Agustus untuk memfinalisasi acara, Ibu Adriana masuk ke kelas 9 untuk mengajar mata pelajaran geografi. Sejak pagi, Ibu Adriana sudah mengajar 3 kelas yang berbeda secara berurutan. Pada pelajaran ini, anak-anak diizinkan menggunakan gawai mereka untuk mengerjakan proyek kelompok. Setelah beberapa saat Ibu Adriana melakukan pengecekan apakah setiap murid bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab mereka. Saat mendekati meja salah satu siswa, Diana, Bu Adriana mendapati muridnya itu sedang menggunakan gawainya untuk mengerjakan tugas pelajaran lain. Ibu Adriana spontan mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi. “Jadi ini yang dari tadi kamu lakukan? Seisi ruang kelas terkejut.  Wajah Diana memerah.  Ia tampak malu dan tidak menyangka Ibu Adriana merespon sekeras itu.


Jawablah pertanyaan berikut.

  1. Apakah masalah yang dihadapi Ibu Adriana? Mohon uraikan dengan padat dan jelas. 
  2. Bagaimana penerapan kompetensi kesadaran diri pada masalah tersebut? (mengacu pada kerangka atau panduan yang ada di artikel)

Jawab: 

  1. Masalah yang dihadapi Ibu Adriana adalah kelelahan psikis yang tampak dari jantungnya yang berdetak cepat, sering merasa cemas dan pikiran bercabang-cabang. Kondisi ini menandakan bahwa Ibu Adriana sedang mengalami stress. Ibu Adriana mengalami stress karena begitu banyak tuntutan peran dan tanggung jawab yang diembannya. Beliau menjadi seorang guru Geografi dengan tanggung jawab yang besar apalagi harus mengajar beberapa kelas, menjadi ketua panitia acara yang besar, dan bahkan di rumah beliau juga harus memenuhi tanggung jawab personal dalam keluarga. Kondisi tersebut bukanlah suatu perkara yang mudah. Dampak kondisi stress ini beliau mengalami kelelahan fisik yang ditunjukkan oleh respon tubuh yang seakan berat untuk bangun, merasa berat untuk berdiri dan bergerak. Nah, stress dan kelelahan psikis ini akhirnya berdampak pada emosional Ibu Adriana. Beliau menjadi kelihatan cepat marah, kesal dan responsif baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain (dalam kasus tersebut adalah muridnya). Beliau tidak dapat mengontrol emosi ketika dalam situasi yang menantang dan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Akhirnya, selain dengan dirinya, beliau juga mengalami masalah interaksi dengan orang-orang disekililingnya. Respon Ibu Adriana tersebut merupakan respon terhadap keadaan atau situasi lingkungan saat itu yang tanpa disadari dianggap mengancam dirinya. Kesimpulan: Masalah utama yang dihadapi Ibu Adriana adalah ketidakmampuan diri untuk memanejemen stress, mengelola dan mengenali emosi serta fokus dalam menghadapi tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam pekerjaanya sehingga bertindak secara responsif.
  2. Penerapan kompetensi kesadaran diri pada masalah tersebut? (mengacu pada kerangka atau panduan yang ada di artikel) Penerapan kompetensi kesadaran diri  pada masalah tersebut adalah Ibu Adriana perlu mempraktikan kesadaran penuh (mindfulness). Mindfulness merupakan kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan. Kesadaran penuh memiliki korelasi positif terhadap kesadaran diri. Dalam berkesadaran penuh, Ibu Adriana dapat mengelola konflik, mengelola stress, mengetahui cara berinteraksi dengan orang lain, mengetahui cara untuk memahami diri senidir, merasakan dan mengenali pikiran, perasaan dan lingkungannya. Saat Ibu Adriana merasakan emosi kepada keadaan dan muridnya, beliau harus mengenali emosi tersebut. Ibu Adriana perlu memberi nama emosi tersebut. Saat Ibu Adriana mempraktikan kesadaran penuh, beliau harus mengenali dan merasakan dengan jelas terlebih dahulu emosinya kala itu. Dengan Ibu Adriana memahami emosinya maka akan membantu beliau untuk dapat merespon terhadap kondisinya secara tepat. Beliau akan dapat merespon secara lebih baik. Hal ini tidak hanya akan berdampak pada wellbeing diri Ibu Adriana tetapi dapat juga membantu menjadi role model  bagi murid-muridnya.

Salah satu teknik Latihan Mindfulness yang dapat dilakukan oleh Ibu Adriana adalah dengan STOP.

  1. Stop/hentikan apapun yang sedang dilakukan. Ibu Adriana hendaknya berhenti sejenak dan mengambil momen penting untuk menghentikan sebentar apa yang tengah ia lakukan.
  2. Take a depp/Tarik napas dalam-dalam. Ibu Adriana harus menyadari napas masuk dan napas keluar. Merasakan udara segar yang masuk melalui hidung.
  3. Observasi/amati. Ibu Adriana perlu mengamati apa yang dirasakan oleh tubuhnya. Ibu Adriana dapat mengamati pilihan-pilihan yang dapat dilakukan.

Kasus 2:

Selesai kegiatan belajar-mengajar berakhir, Ibu Adriana memimpin rapat panitia besar yang akan memutuskan revisi akhir acara. Rapat yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam menghasilkan tugas baru bagi Bu Adriana untuk mempelajari perubahan proposal acara.  Bu Adriana perlu memastikan semua perencanaan, pengaturan personil, dan pengaturan anggaran sudah tepat. Sesuai rencana, panitia acara sudah harus mulai bekerja setelah proposal disetujui oleh kepala sekolah.  Oleh karena itu, Ibu Adriana diminta untuk mengirimkan proposal ini kepada kepala sekolah selambat-lambatnya lusa. Karena mendahulukan proposal ini, Ibu Adriana pun lupa menyiapkan rubrik untuk pembelajaran geografi keesokan harinya. Keesokan paginya, Ibu Adriana, masuk kelas dan lupa mengunduh rubrik proyek geografi sehingga proses pembelajaran sempat tersendat.


Jawablah pertanyaan berikut.

  1. Apakah masalah yang dihadapi Ibu Adriana? Mohon uraikan dengan padat dan jelas. 
  2. Bagaimana penerapan kompetensi pengelolaan diri pada masalah tersebut? (mengacu pada kerangka atau panduan yang ada di artikel)

Jawab: 

  1. Yang di hadapi bu Adriana adalah mengalamai kesulitan dalam melaksanakan tugas sebagai guru karena mendapatkan begitu banyak tugas yang dihadapi. Yang perlu dilakukan bu Adriana adalah perlunya memanagemen waktu yang baik. Dan yang sangat diperlukan lagi oleh bu Adriana adalah daya letting atau resiliensi yaitu kemempuan individu untuk merespon tantangan atau trauma yang dihadapai dengan cara –cara sehat dan produktif.
  2. Penerapan kompetensi pengelolaan diri pada masalah tersebut  bisa menggunakan 3 sumber resiliensi individu yaitu :
    • I have (Saya memiliki): teman sejawat yang sudah saya percaya dan dapat diandalkan yang diajak kerjasama dalam melakukan atau mengerjakan sesuatu atau dibentuk suatu komunitas untuk menyelesaikan proposal yang diminta oleh kepala sekolah
    • I am (Saya adalah): saya bertanggung jawab akan apa yang saya lakukan dan apa yang komunitas saya lakukan karena saya memiliki sifat Optimis, percaya diri, dan memiliki harapan
    • I can (Saya dapat) : memecahkan masalah menuju kekuatan diri (kemampuan menyelesaikan persoalan, keterampilan sosial dan interpersonal) dan Kemampuan menjalin hubungan yang penuh kepercayaan Untuk memecahkan masalah dan tantangan yang dihadapi.

Kasus 3:

Saat mempelajari proposal acara 17 Agustus di antara jam mengajar dan mengoreksi pekerjaan murid-murid, ibu Adriana menyadari salah seorang murid kelas 10 yang berprestasi dalam kejuaraan renang tidak mengumpulkan tugasnya. Bu Adriana memanggil murid tersebut. Murid tersebut mengungkapkan pada Ibu Adriana bahwa dia sebenarnya merasakan lelah dan mengantuk saat berada di dalam kelas maupun di rumah karena latihan keras menjelang kejuaraan bulan depan. Ibu Adriana menilai, seharusnya murid tersebut bekerja lebih keras sebagai konsekuensi dari pilihannya menjadi murid atlet.

Jawablah pertanyaan berikut.

  1. Apakah masalah yang dihadapi Ibu Adriana? Mohon uraikan dengan padat dan jelas. 
  2. Bagaimana penerapan kompetensi kesadaran sosial (empati) pada masalah tersebut? (mengacu pada kerangka atau panduan yang ada di artikel)

Jawab: 

  1. Masalah yang dihadapi Ibu Adriana adalah capek lelah dan stress. Sehingga bu adriana  berpikir dan berusaha lebih berpikir dan berusaha lebih cepat dan keras sehingga dapat menjawab tantangan hidup sehari- hari dikarenakan melakukan tugas yang begitu banyak. Sehingga sikap yang dilakukan bu Adriana bisa mengancam dirinya.
  2. Yang perlu dilakukan bu Adriana adalah mempraktikkan kesadaran penuh, dengan merasakan dan mengenali lebih jelas emosi yang dihadapi dan dapat memberikan nama terhadap emosinya seperti saya marah, saya kecewa saya sedih, saya kecewa.dan pada kasus ini bisa disebutkan ekspresi kewalahan yang tak lain adalah emosi takut.

    Penerapan yang bisa dilakukan oleh bu Adriana adalah

    • Stop/ Berhenti. Bu Adriana berhenti dulu melakukan kegiatan dengan melakukan relaksasi di tempat yang sunyi
    • Take a deep Breath/ Tarik nafas dalam. Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk, napas keluar
    • Observe/ Amati. Amati apa yang dirasakan pada tubuh, amati perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuang napas. Amati pilihan-pilihan yang dapat dilakukan.
    • Proceed/ Lanjutkan. Latihan selesai. Bu adrian dapat melanjutkan kembali aktivitas dengan perasaan yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan sikap yang lebih positif

Kasus 4:

Setelah selesai memeriksa proposal acara 17 Agustus, Ibu Adriana mengirimkan proposal tersebut kepada kepala sekolah. Ternyata proposal yang dikirimkan oleh Ibu Adriana dinilai tidak sesuai oleh kepala sekolah. Kepala Sekolah meminta agar isinya sesuai dengan pengarahan awal yaitu agar acara lebih banyak melibatkan orangtua murid. Ibu Adriana tidak menyangka jika dia harus melakukan koreksi dan koordinasi ulang dengan tim acara. Revisi proposal tentu akan memakan waktu lagi dan Ibu Adriana sudah membayangkan ini akan menghambat tugas-tugasnya yang lain. Ibu Adriana mengungkapkan hal ini kepada wakil ketua panitia. Ibu Adriana mengungkapkan bahwa dia tidak mau mengubah proposal dan meminta Wakil Ketua Panitia tersebut yang merevisi proposal.

Jawablah pertanyaan berikut.

  1. Apakah masalah yang dihadapi Ibu Adriana? Mohon uraikan dengan padat dan jelas. 
  2. Bagaimana penerapan kompetensi resiliensi pada masalah tersebut? (mengacu pada kerangka atau panduan yang ada di artikel)

Jawab:

  • Masalah yang dihadapi Ibu Adriana adalah dengan datang ke wakil ketua panitia dengan mengungkapkan seluruh keluh kesahnya adalah perasaan kewalahan dimana ekspresi keawalahan menggambarkan emosi takut. Bu Adriana takut memakan waktu yang banyak sehingga dapat mengganggu tugas-tugas yang lain terutama proses mengajar yang harus dipersiapkan sehingga bu Adriana memberi keputusan untuk tidak mau mengubah proposal dan meminta wakil ketua panitia untuk merevisi. 
  • Yang perlu dilakukan oleh bu Adriana dengan menggunakan penerapan kompetensi resiliensi pada masalah tersebut dengan tidak menghilangkan kesulitan dalam hidup, tetapi membuat bu Adriana mampu kembali bangkit dari kesulitan, memberikan kekuatan untuk menyelesaikan permasalahan dan terus melangkah maju. Karena bu Adriana mempunyai sumber individu yaitu:
    1. I have (Saya memiliki) :  model-model peran,
    2. I am (Saya adalah):  Bertanggung jawab dan terima konsekuensi atas tindakannya
    3. I can (Saya dapat):  Kemampuan berkomunikasi dan Pemecahan masalah

    Di saat seperti inilah, Ibu Adriana perlu mengembalikan dirinya dalam kesadaran penuh. Teknik STOP dapat membantunya bersikap lebih responsif terhadap situasi. Teknik ini bahkan dapat dilakukan saat Ibu Adriana masih berada di depan kepala sekolah. Saat tenang dan berkesadaran penuh, Ibu Adriana lebih dapat mengungkapkan situasi dan kondisi di lapangan yang menyebabkan beberapa hal perlu diputuskan seperti yang ada dalam proposal. Dengan demikian, Ibu Adriana mampu dengan jelas dan terstruktur menjelaskan dengan gamblang, sehingga bisa jadi kepala sekolah menerima atau paling tidak memahami situasi dan tidak memaksakan untuk kembali ke rencana awal. 


  • Kasus 5

    Setelah bekerja selama 5 tahun di sekolah yang sama, Ibu Adriana merasa mulai kewalahan dengan berbagai tanggung jawab tambahan yang harus dijalankan. Ibu Adriana mendapatkan tanggung jawab ekstra karena dipercaya oleh kepala sekolah. Kepala sekolah melihat pengalaman Ibu Adriana sudah jauh lebih banyak dibandingkan guru-guru yang lain. Itu sebabnya, Ibu Adriana diminta untuk menjadi penanggung jawab beberapa acara penting di sekolah, menjadi wakil sekolah di forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Awalnya Ibu Adriana merasa tugas tambahan tersebut sangat menantang. Namun demikian, sekarang dia tidak merasakan itu lagi. Ditambah dirinya merasa bahwa akhir-akhir ini, kinerjanya sebagai guru juga semakin menurun. Karena itu, Ibu Adriana terpikir untuk menulis surat pengunduran diri.

    Jawablah pertanyaan berikut.

    1. Apakah masalah yang dihadapi Ibu Adriana? Mohon uraikan dengan padat dan jelas. 
    2. Bagaimana penerapan kompetensi pengambilan keputusan yang bertanggung jawab pada masalah tersebut? (mengacu pada kerangka atau panduan yang ada di artikel)

    Jawab: 

    1.  Yang dihadapi bu Adriana adalah mengalami penurunan kinerja dan merasa lelah dengan tugas yang berjubun serta tidak percaya diri dengan kemampuan mengatasi masalah, tekanan dan pekerjaan yang dilakukannya sehingga berinisiatif untuk menulis surat pengunduran diri untuk mengatasi masalah tersebut tanpa memikirkan kensekuensi yang akan dihadapi dan alternative-alternatif untuk memecahkan maslah tersebut.
    2. Penerapan kompetensi pengambilan keputusan yang bertanggung jawab pada masalah tersebut dalam contoh kasus Ibu Adriana di atas, belum tentu keputusan yang diambil efektif mengatasi masalah. Bisa jadi, masalah utamanya belum betul-betul terungkap. Butuh kejujuran dan keterbukaan dalam mengevaluasi permasalahan. Untuk itu, butuh terus melatih kesadaran penuh, agar semakin terbuka dengan masalah yang sesungguhnya. Penerapan kompetensi pengambilan keputusan yang bertanggung jawab pada masalah tersebut dapat dengan menggunakan kerangka kerja POOCH. Dimana dengan kesadaran penuh, dengan emosi stabil, dan perasaan yang tenang dapat mengisi Kerangka kerja POOCH dengan jujur. POOCH merupakan singkatan dari Problem (Masalah), Options (Alternatif pilihan), Outcomes (Hasil atau konsekuensi), Choices (Keputusan yang diambil), dan How (Bagaimana hasilnya). Kerangka sederhana ini akan membantu bu adriana memikirkan dengan baik berbagai aspek sebelum memutuskan sesuatu.



    Terima Kasih. Semoga Bermanfaat.

    Tuesday, July 13, 2021

    RPP Berdiferensiasi

     RPP BERDIFERENSIASI





    OLEH: NI PUTU WAHYUNI


    Mata Pelajaran     : IPA
    Kelas                    : VIII
    Semester              : Ganjil




    Sunday, June 27, 2021

    Modul 1.4.a.10 Aksi Nyata - Budaya Positif

     Modul 1.4.a.10 Laporan Aksi Nyata  

    PENERAPAN BUDAYA POSITIF DALAM  UPAYA PENINGKATAN SRADA BAKTI DAN CINTA LINGKUNGAN 
    PESERTA DIDIK SMP NEGERI 2 GIANYAR

    Oleh : Ni Putu Wahyuni
    CGP Angkatan ke - 2, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali


    A. Kerangka Aksi Nyata



    B. Rancangan Aksi Nyata


    C. Latar Belakang 

    Sekolah merupakan rumah kedua bagi seorang siswa yang aman, nyaman, dan bermakna. Sebuah tempat yang dirancang sedemikian rupa guna dapat mengembangkan murid yang diharapkan dapat menjadi pribadi yang berpengetahuan, berkarakter baik, bertanggung jawab, penuh hormat, dan berpikir kritis. Dalam budaya sekolah meyakini bahwa setiap murid memiliki potensi positif damlam menjalani kodrat mereka sebagai seorang anak baik itu menyangkut kodrat alam maupun kodrat zaman. Dalam pengembangan keterampilan serta sikap yang dimiliki tersebut sekolah bertujuan untuk mewujudkan siswa yang memiliki profil pelajar Pancasila melalui penerapan budaya positif. Budaya positif mengajarkan kita agar dapat membiasakan sikap disiplin positif yang mengajarkan murid dalam berketerampilan sosial dan memiliki kehidupan saling menghormati dan kesadaran dari dalam diri.

    Disiplin positif menekankan pada membangun kekuatan murid dari pada mengkritik kelemahan mereka dan menggunakan penguatan positif mereka untuk mempromosikan perilakau baik yang mereka miliki. Hal ini memberikan pedoman yang jelas bagi murid untuk berperilaku yang dapat diterima, dan mendukung mereka untuk memiliki kesadaran dalam mematuhi pedoman ini.

    D. Deskripsi Aksi Nyata

    Dalam mengupayakan budaya ajar yang baik, budaya positif di sekolah tidak berdiri sendiri. Karena dibutuhkan sinergitas antar semua pemangku kepentingan di sekolah dalam pembiasaan-pembiasaan positif yang diterapkan. Pembiasaan positif dan percaya akan kekuatan diri akan membudaya dan berakar, sehingga menjadi budaya yang dapat menjadi suatu kekuatan untuk menerapkan disiplin positif dan berketerampilan sosial di sekolah. Mengapa harus disiplin positif, karena semua aturan-aturan yang diterapkan ditujukan untuk melahirkan mental-mental disiplin dan menunjukkan kekuatan diri yang berdasarkan kesadaran individunya. Budaya positif lahir karena semua pemangku kepentingan sadar akan pentingnya taat terhadap sebuah aturan dan pentingnya siswa dalam menyadari kekuatan dirinya agar dapat lebih percaya diri dalam berketerampilan sosial dan saling menghormati baik itu di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. Taat bukan karena ada konsekuensi dibalik semua itu, tapi pembiasaan bermula dari dalam diri. Mulai dari diri yang merupakan ciri dari motivasi intrinsik dimana karakter disiplin yang kuat akan terbentuk.

    Penerapan budaya positif seperti religius, disiplin dan toleransi antar sesama dikaitkan dengan nilai-nilai profil Pelajar Pancasila yaitu: Beriman dan bertakwa pada Tuhan YME, kemandirian, bernalar kritis, kreatif, bersifat kebhinekaan dan bergotong royong. Dimana nilai-nilai itu akan menjadi dasar pembiasaan positif. Ketika pembiasaan yang dimaksud menjadi karakter maka akan mudah mencetak generasi pelajar Pancasila yang berempati dan kritis yang memiliki daya saing global dengan kreatifitas tanpa batas namun tetap mengusung kebhinekaan dan gotong royong sesama.

    Dalam perwujudan Visi guru penggerak sebelumnya, peran seluruh warga sekolah erat kaitannya dengan seluruh pemangku kepentingan dalam hal ini seluruh warga sekolah bersinergi dan saling menguatkan serta menumbuhkan kekuatan diri dalam berketerampilan sosial dan saling menghormati melalui pembiasaan-pembiasaan positif. Jika pembiasaan sudah membudaya, dan menjadi karakter individunya dalam sebuah institusi sekolah maka akan dengan mudah visi dari guru penggerak diciptakan. Begitu juga nilai-nilai dan peran guru penggerak yaitu pembelajaran berpusat pada murid, dengan kolaborasi, refleksi, guru akan mudah berinovasi dan kemandirian belajar menjadi sebuah keniscayaan jika karakter guru nya kuat. Mengapa harus berpusat pada murid, karena sesuai dengan refleksi filosofi pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa pembelajaran dengan sistem among. Guru sebagai fasilitator di depan menjadi contoh, ditengah sebagai penyemangat dan di belakang menjadi pendorong demi majunya sebuah Pendidikan yang bermula dan berpusat pada kebutuhan murid.

    Peran guru penggerak dalam menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dan peserta didik dalam membangun budaya positif yaitu dengan menguatkan apa yang sudah menjadi budaya dan iklim baik di sekolah. Memunculkan kekuatan, dan menyamarkan hal-hal yang bersifat stagnan. Sehingga yang diharapkan semua bergerak untuk menuju perubahan yang signifikan. Dengan berkolaborasi membentuk kekuatan diri dan menerapkan disiplin positif yang akan menjadi budaya sekolah sehingga siswa dapat berketerampilan sosial dan saling menghormati antara teman di lingkungannya baik di sekolah, rumah maupun di masyarakat. Dengan memulainya dari kekuatan diri, menjadi kekuatan kelas, dan kekuatan sekolah.

    Bagaimana menumbuhkan budaya positif di kelas, sehingga menjadi budaya positif di sekolah dan menjadi visi dari guru penggerak. Kelas adalah miniatur dari sekolah, dan sekolah adalah miniatur dari bangsa. Bangsa yang berbudi pekerti baik serta berdisiplin positif bermula dari bangku-bangku di sekolah. Sehingga bagaimana menumbuhkan budaya positif adalah bermula dari kegiatan belajar mengajar di kelas dan upaya guru berinteraksi dengan muridnya.

    Bagaimana menyentuh individu-individu agar memiliki kekuatan diri dalam berketampilan sosial dan saling menghormati bisa diawali dengan menciptakan iklim komunikasi dua arah dimana hal ini merupakan cara efektif mengetahui harapan-harapan dari seorang murid terhadap proses pembelajaran yang dia peroleh dan impikan. Pentingnya mengetahui harapan dan impian murid adalah salah satu Tindakan reflektif dalam proses pembelajaran serta penerapan nilai dan peran guru.

    Komunikasi dua arah juga memberikan kesempatan murid bertanya, dengan pembiasaan bertanya disinilah awal mula kekuatan diri muncul dan membentuk karakter bernalar kritis. Kekuatan diri ini akan menimbulkan rasa percaya diri pada murid karena merasa dihargai dan didengarkan. Ketika murid memiliki aspirasi dan dapat mengeluarkan pendapatnya itu merupakan suatu apresiasi luar biasa bagi sebuah interaksi guru dan murid. Membangun kekuatan diri murid adalah sangat penting karena dengan kekuatan diri ini akan muncul kepercayaan diri pada murid yang akan menjadi bekal untuknya dalam berketerampilan sosial dan saling menghormati antar sesama teman dan guru di lingkungan sekolahnya. Ketika empati dan karakter lain seperti bernalar kritis muncul sebagai akibat dari sebuah interaksi disitulah akan muncul kreatifitas dan inovasi-inovasi murid. Sehingga karakter dan budaya positif akan dengan sendirinya muncul berawal dari pembiasaan positif di kelas.

    Strategi yang dapat dilakukan untuk menerapkan budaya positif di sekolah dengan memanfaatkan sumber yang dimiliki, diantaranya mengaktifkan kegiatan pesraman sekolah dan menyadarkan siswa arti pentingnya dalam merawat lingkungan di sekolah dalam kaitannya Srada Bhakti dan cinta lingkungan, sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap pola dan kebiasaan siswa dalam berinteraksi terhadap sesamanya. Dampak yang ingin dilihat adalah kesadaran siswa akan kekuatan positif yang dimiliki oleh dirinya sehingga dapat berketarampilan soasial dan saling menghormati dan memiliki kesadaran dalam berdisiplin positif sehingga dapat membangun budaya positif dimanapun murid tersebut berada. Berawal dari peran guru penggerak dalam membudayakan disiplin positif dengan mengubah paradigma disiplin menjadi disiplin positif.

    Linimasa tindakan yang akan dilakukan

    1. Sosialisasi Budaya Positif kepada semua pemangku kepentingan disekolah

    2. Membangun komonikasi dua arah antar guru sejawat dalam rangka membangun kekuatan diri siswa dalam berinteraksi sosial dan saling menghormati antar sesama siswa dan siswa dengan gurunya di sekolah.

    3. Membangun disiplin positif siswa dalam menerapkan budaya positif baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat melalui peningkatan Srada Bhakti dan cinta lingkungan.

    4. Merefleksi kegiatan disiplin positif dalam rangka membudayakan Srada Bhakti dan cinta lingkungan dalam upaya meningkatkan kekuatan diri dalam berketerampilan sosial dan saling menghormati baik antar siswa maupun antar siswa dengan guru.

    Aksi nyata kali ini bertujuan menumbuhkembangkan budaya positif di sekolah. Mengajak semua masyarakat sekolah dan pemangku kepentingan untuk senantiasa melestarikan dan menjaga hal-hal baik dan positif agar terus mengakar dan menyebar secara menyeluruh ke semua aspek sekolah terutama dikalangan murid dengan motivasi dan dukungan para guru pengampu mata pelajaran serta bimbingan wali kelas dalam disiplin positif yang yang telah dibiasakan sehingga dapat menjadi budaya yang telah mengakar dan menjadi nilai dari kekuatan diri.

    Untuk menerapkan pembiasaan dari budaya positif ini diperlukan komonikasi dua arah  antara guru penggerak dengan pemangku kepentingan, karena konsekuensi bersama terhadap sebuah aturan dalam rangka penerapan disiplin positif tidak akan berhasil tanpa kesadaran penuh dari masing-masing individu. Untuk itu diperlukan kesepakatan  bersama yang dirancang di dalam kegiatan pesraman dalam upaya meningkatkan Srada bakti dan cinta lingkung. Srada Bakti dapat meningkatkan kekuatan yang ada pada diri siswa sehingga mereka dapat memiliki keterampilan dalam berinteraksi sosial dan saling menghormati terhadap sesaman teman dan gurunya, Dimana kita ketahui, belakang banyak sekali terjadi kejadian dan permasalahan ketika hilangnyanya kesadaran murid dalam menghormati sesamanya bahakan terhadap gurunya sendiri. Karakter baik haruslah mulai dibangun dari diri sendiri dan dibiasakan oleh lingkungannya sehingga dapat menjadi sebuah budaya positif. 

    Kegiatan kedua yang dilakukan selain pesraman adalah piket harian yang dilaksanakan secara bergilir oleh seluruh siswa dan tersebar di seluruh lingkungan sekolah dalam rangka menjaga lingkungan sekolah agar tetap bersih dan asri. Ketika lingkungan tempat siswa belajar baik, maka siswa akan dapat menyerap pelajaran dengan baik pula. Siswa menyadari hal ini dan dengan disiplin datang tepat waktu di setiap jadwal piketnya, dan dengan penuh kesadaran melaksanakan tugas mereka di bagian yang telah ditentukan.

    E. Hasil Dari Aksi Nyata

    Respon para murid tentang disiplin positif ini awalnya adalah sebuah kebingungan, karena ini merupakan hal yang baru bagi mereka, namun setelah dilakukan pendekatan oleh guru mereka dapat menerimanya dengan sangat baik. Begitu juga dengan para guru dan pemangku kepentingan sekolah seperti kepala sekolah, guru, peserta didik, orang tua murid, komite, dan semua tenaga kependidikan, serta semua warga di lingkungan sekitar sekolah. Tantangan dalam menerapkan budaya positif, adalah menghadapi murid yang sedang mengalami masa peralihan dari anak-anak menuju pra-dewasa dimana karakter keakuan mereka lebih menonjol, namun dengan pendekatan yang baik tentu saja mereka dapat lebih memahami dan menyadari makna di balik penerapan budaya positif ini. Peningkatan kekuatan diri yang dapat menonjolkan hal-hal positif yang ada pada diri tentu saja dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa yang nantinya dapat membantu mereka dalam berinteraksi dan sikap saling menghormati dengan sesama temannya atau pun dengan para guru di sekolah.

    Perasaan senang dan apresiasi mereka terhadap penerapan budaya positif melalui kegitan pesraman dan kebersihan membuat mereka menjadi bersemangat dalam meningkatkan kekuatan diri dalam berdisiplin positif yang dilaksanakan. Perubahan tampak terjadi pada penilaian mereka terhadap diri sendiri dan pandangan mereka terhadap orang lain dan melihat sudut masalah mereka. Awalnya setiap murid melihat temannya mulai dari sis negatifnya, kekurang yang dimiliki dirinya dan temannya dan melihat masalah dari sisi negatif serta menyalahkan orang lain terhadap suatu masalah yang tidak doharapkan. Namun setelan dilakukan pendekatan yang baik dan dilaksanakan secara bertahap dalam beberapa hari, terjadi perubahan-perubahan pandangan pada diri mereka. Mereka mulai melihat kekuatan diri, dan kekuatan positif yang dimiliki oleh temannya, serta mulai dibiasakan untuk berpikir positif terlebih dahulu dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Proses ini membuat mereka lebih bersemangat karena pemikiran positif, dan motivasi intrinsik yang nimbulkan perasaan bahagia untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tantangannya adalah ketika terdapat siswa yang merasa dirinya memiki kekuatan diri lebih baik dibandikan yang lainnya sehingga bukannya jadi memiliki keterampilan sosial yang baik dan sikap saling menghormati yang muncul tapi menjadi pribadi yang sombong dengan sikap keakuan yang tinggi. Disinilah dijelaskan kembali makna sebenarnya dari Srada Bakti dimana srada merupakan keyakinan,  dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan agama yang dianutnya. Sebagai umat beragama kita harus percaya bahwa Tuhan itu ada dan menghidupi setiap mahluk hidup serta tentang adanya hukum karma pala yang akan tetap berlaku bagi siapapun baik yang percaya maupun yang tidak percaya. Sedangkan bhakti adalah sebuah persembahan kerja tanpa memikirkan hasil dari penyerahan diri secara total. Srada dan bakti harus senantiasa menjiwai setiap gerak langkah umat bergama. Dengan demikian apa yang kita kerjakan akan bermanfaat bagi kehidupan kita baik di dunia maupun setelah kita mati.

    F. Pembelajaran Yang Didapat Dari Pelaksanaan Aksi Nyata

    Proses aksi nyata ini belum seratus persen terlaksana sesuai dengan harapan karena waktu pelaksanaan yang terbatas waktu dan aturan prokes dari pemerintah sehingga kegiatan ini tidak merata didapat oleh seluruh siswa. 

    Jika pelaksanaan pesraman dan kegiatan kebersihan dapat terlaksana dengan baik, tentunya dapat membentuk budaya positif yang lebih merata dengan cepat. Hal-hal baik akan muncul pada setiap diri siswa menjadi sebuah kesadaran dalam melaksanakan disiplin positif, membangun kekuatan diri yang positif, dan menyelesaikan masalah mulai dari hal-hal positif maka siswa akan memiliki keterampilan sosial yang baik dan sikap saling menghormati baik terhadap sesama temannya maupun terhadap guru. Kehidupan sekolah akan menjadi lebih bersemangat dan lebih harmonis karena hal ini telah dengan sadar dilaksanakan tanpa adanya hukuman maupun menuntut hadiah atas apa yang telah dilakukan sehingga dapat menjadi budaya positif yang dapat dicontoh dan dilaksanakan pula oleh sekolah lainnya.

    G. Rencana Perbaikan Untuk Pelaksanaan Di Masa Yang Akan Datang

    Adapun rencana perbaikan untuk dapat dilaksanakan di masa mendatang adalah pelaksanaan pesraman ini akan menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan untuk mengisi kegiatan libur sekolah dalam rangka membangun hal-hal positif yang terdapat pada diri siswa, membangun dan meningkatkannya ke arah yang lebih baik lagi. Minggalkan sifat keakuan yang berlebihan yang akan menimbulkan kesombongan dan rasa keakuan yang berlebihan. Kegiatan ini lebih bertujuan dalam membentuk kekuatan positif diri dalam pembiasaan disiplin positif yang dilaksanakan melalui kegiatan pesraman dan pembersihan lingkungan sekolah yang dilaksanankan secara kontinu dan konsisten sehingga dapat menjadi budaya positif yang dapat ditonjolkan sekolah kita.

    Perubahan yang dilakukan adalah dimulai dari kesadaran pada diri sendiri bahwa ada karma phala atas segala perbuatan yang kita lakukan sebagai manusia sehingga hendaknya kita harus menyadari bahwa jika kita menginginkan suatu hasil yang baik, maka harus ada perbuatan baik yang kita laksanakan dan itu kita mulai dari diri sendiri, dari keluarga, sekolah, yang dilanjutkan hingga dilingkungan masyarakat.

    Dengan kontrol guru, semua siswa melkukan refleksi atas apa yang telah mereka dapatkan dari kegiatan pesraman dan kegiatan pembersihan lingkungan sekolah sebagai wujud dari srda bahti dan cinta lingkungan. Perubahan yang diharapkan akan mampu dirasakan oleh para siswa dimana terjadi peningkatan kesadaran dalam diri mereka untuk melaksanakan disiplin positif dalam kualitasnya dapat meningkatkan kekuatan diri mereka secara positif. Jika hal ini dapat terus dilaksanakan secara konsisten, maka disiplin positif ini dapat menjadi budaya positif yang tentunya dapat meningkatkan kualitas diridalam berketerampilan sosial dan sikap saling menghormati antar sesama.

    H. Dokumentasi Proses dan Hasil Pelaksanaan

    Proses pelaksanaan kegiatan pesraman


    Foto 1,2,3: Proses perencanaan kegiatan Pesraman, mulai dari pendekatan terhadap Kepala Sekolah, Komite, Pemuka agama di sekolah, dan para guru di lingkungan SMPN 2 Gianyar  

    Foto 4, 5: Pelaksanaan pembukaan pesraman dimulai dengan kegiatan bersembahyang bersama secara agama Hindu

    Foto 6, 7: Pembukaan acara pesraman yang dibuka secara resmi oleh bapak Kepala SMP Negeri 2 Gianyar

    Foto 8, 9: Proses pelaksanaan Pesrama yang diisi dengan pemahaman tentang Srada Bakti, yang dilanjutkan dengan diskusi dan kegiatan mejaitan bagi guru dan siswa perempuan. Sedang bagi siswa laki-laki membuat klatkat.

    Foto 10, 11: Kegiatan penutupan pesraman dilaksanakan dengan melaksanakan persembahyangan bersama di Padmasana sekolah.


    Kegiatan pembersihan lingkungan sekolah

    Foto 1:  Pengarahan pembagian wilayah bagi siswa yang akan melaksanakan kegiatan pembersihan lingkungan sekolah

    Foto 2,3: Kegiatan siswa dalam menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan sekolah

    Foto 4,5, dan 6: Kegiatan siswa dalam menjaga kebersihan sekolah hingga di luar lingkungan sekolah




    Demikianlah laporan dari Aksi Nyata yang saya lakukan. Semoga dapat menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi yang lainnya.



    Modul 1.4.a.9 Koneksi Antar Materi - Budaya Positif

    Modul 1.4.a.9 Koneksi Antar Materi 

    BUDAYA POSITIF

    Oleh: Ni Putu Wahyuni

    CGP Angkatan Ke-2, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali


    Budaya positif bukanlah satu-satunya materi yang perlu diterapkan dalam pendidikan di sekolah. Kita perlu juga mengingat dan mengaitkan materi-materi yang sudah kita pelajari sebelumnya agar penerapan di ekosistem belajar semakin maksimal. 



    Wednesday, June 23, 2021

    Saturday, June 12, 2021

    Aksi Nyata modul 1.3 - Visi Guru Penggerak

     

    Tugas 1.3.a.10 Aksi Nyata –VISI GURU PENGGERAK

    MEMBUAT KESEPAKATAN VISI

    OLEH: NI PUTU WAHYUNI

    CGP ANGKATAN KE-2, KABUPATEN GIANYAR, PROVINSI BALI



    Latar Belakang

    Zaman terus mengalami perubahan. Perubahan itu berlangsung dengan cepat dan terjadi setiap saat. Termasuk dalam dunia Pendidikan. Perubahan-perubahaan yang terjadi dalam dunia pendidikan menuntut kita sebagai guru untuk terus membekali diri menghadapi perubahan. Perubahan itu juga menuntut murid mempunyai beberapa kecakapan atau skill yang harus dikuasainya terkait tuntutan perubahan zaman dan harapan dunia kerja. Hal tersebut tentu saja menjadi tantangan guru kita untuk mampu mendesain pembelajaran yang berpihak pada murid. Desain lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya murid merdeka yang memiliki kemandirian dan motivasi intrinsik yang tinggi.  Kita juga perlu terus berlatih meningkatkan kapasitas diri dalam memvisualisasikan harapan, menggandeng sesama dan mentransformasikannya menjadi harapan bersama.

    Dari fakta itulah kemudian, seorang guru dituntut harus mempunyai visi yang jelas. Apa sebenarnya visi itu? Visi itu ibarat melihat sebuah lukisan lengkap pada kanvas yang masih kosong. Visi juga bagaikan bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah mencapai tujuan. Visi itu sesuatu yang belum terjadi terkait masa depan. Maka visi juga dapat dianggap buah kreativitas manusia. 

    Sebagai seorang guru, kita memerlukan sebuah visi yang jelas menggambarkan seperti apa layanan dan lingkungan pembelajaran yang perlu kita berikan pada murid kita. Keyakinan kita atas visi itulah yang akan terus membuat kita terpacu untuk melakukan peningkatan kualitas diri serta menguatkan kolaborasi di lingkungan sekolah sehingga menjadi upaya perbaikan yang berkesinambungan. Guru harus memiliki visi yang mengarah kepada perubahan, baik perubahan di kelas atau perubahan di sekolah. Untuk mencapai perubahan tersebut guru perlu mengenal pendekatan manajemen perubahan. Manajemen pendekatan perubahan sering disebut sebagai Inkuiri Apresiatif (IA).

    IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016). Cooperrider menyatakan bahwa pendekatan IA dapat memberikan kekuatan positif dan membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa.

    IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan.  Untuk melaksanakan IA diperlukan sebuah strategi. Strategi yang dimaksud tersebut dikenal dengan akronim BAGJA, yang memiliki kepanjangan yakni Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, dan Atur eksekusi.

    Tentu, agar perubahan yang diinginkan tercapai maka melalui pendekatan IA dan strategi BAGJA kita harus merangkul pemangku kepentingan yang ada di sekolah atau dinas terkait. Peran strategis pemangku kepentingan ini harus dikomunikasikan dan kolaborasi menjadi kekuatan menuju perubahan yang diinginkan/dicita-citakan. Peter F. Drucker menjelaskan bahwa tugas kepemimpinan adalah menciptakan keselarasan kekuatan, dengan cara membuat kelemahan suatu sistem menjadi tidak relevan. Perubahan yang diharapkan terntu saja harus tetap mempedomani filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara. Bahwa pendidik hanya berperan sebagai penuntun murid menuju kodrat alam dan kodrat zaman. Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, guru hanya bisa menuntun tumbuhnya kodrat tersebut. Jadi jelaslah bahwa IA merupakan pendekatan utama yang harus diimplementasikan guru menuju perubahan yang dicita-citakan dengan menyentuh peran strategis pemangku kepentingan di sekolah.

    Kita ketahui bahwa untuk mencapai visi ini, tentu seorang guru tidak dapat berjalan sendiri. Setiap perubahan dapat terjadi dengan adanya keterlibatan dari berbagai aktor di dalam lingkungan sekolah. Begitu pun pada mimpi yang telah dilukiskan, terdapat aktor-aktor lain yang juga turut berperan. Berdasarkan pendekatan IA, ini adalah aset atau sumber kekuatan yang dapat kita manfaatkan untuk menggapai mimpi, angan dan harapan kita sebagai seorang CGP. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membuat pemetaan kekuatan tersebutmulai sekarang untuk mengetahui siapa yang dapat ikut berperan mendukung Visi yang telah dibuat dan bentuk dukungan seperti apa yang dapat kita manfaatkan.

    Pemetaan kekuatan ini tidak dimaksudkan agar kita bergantung pada banyaknya aktor di lingkungan tempat kita mengajar untuk mewujudkan mimpi pribadi kita mengenai murid. Pada saat membuat pemetaan kekuatan, aktor penting pertama yang perlu dipertimbangkan adalah diri kita sendiri dan murid kita. Bayangkanlah diri sendiri dianggap sebagai aktor kunci dan aset pertama yang dimiliki dalam mewujudkan mimpi. Kemudian, bayangkanlah juga murid kita sebagai aset utama dan harta yang Anda dimiliki karena kita sedang bermimpi tentang mereka dan seperti apa masa depan mereka yang kita angankan dalam perwujudan visi yang telah kita buat. Berikut adalah pemetaan pemangku kepentingan yang terlibat dalam perwujudan Visi.

     

    PEMETAAN PEMANGKU KEPENTINGAN


    Tujuan

    Adapun tujuan dari rancangan aksi nyata ini yaitu sebagai berikut.

    1. Untuk meningkatkan keterlibatan murid dan guru yang secara aktif dalam mewujudkan Visi yang telah dibuat dalam kegiatan perpisahan kelas IX.
    2. Untuk mendeskripsikan setiap kekuatan aset yang ikut terlibat dalam mewujudkan Visi yang telah dibuat dalam kegiatan perpisahan kelas IX
    3. Untuk merealisasikan visi: Terwujudnya generasi masa depan yang berkarakter baik, Gembira (Global diversity, Efektif, Mandiri, Bertanggung jawab, Inovatif, Riang, dan Aktif kreatif) dan cinta lingkungan dalam kegiatan perpisahan kelas IX

     

    Deskripsi Aksi Nyata

    Kegiatan aksi nyata ini dimulai dengan membicarakannya terlebih dahulu kepada Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab sekolah yang dilanjutkan dengan meminta ijin untuk mensosialisasikannya kepada seluruh warga sekolah. Hal ini bertujuan agar memperoleh persamaan persepsi mengenai kegiatan aksi nyata yang akan saya laksanakan. Kegiatan ini telah sesuai dengan modul 1.3 tentang “Visi Guru Penggerak” yakni Terwujudnya generasi masa depan yang berkarakter baik, Gembira (Global diversity, Efektif, Mandiri, Bertanggung jawab, Inovatif, Riang, dan Aktif kreatif) dan cinta lingkungan. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, kegiatan ini membutuhkan kolaborasi yang baik dengan seluruh aset yang dimiliki oleh sekolah, sehingga saya juga melaksanakan sosialisasi kepada murid, dan guru agar dapat ikut ambil bagian dalam perwujudan visi yang telah saya rancang. Pada kegiatan ini, saya juga mengajak kepada murid yang selama ini kurang aktif dalam pembelajaran untuk ikut serta. Hasilnya adalah mereka memberikan respon yang positif serta bersedia terlibat. Bentuk keterlibatannya adalah dengan sumbangsih mereka dalam karya dan kreativitasnya dalam kegiatan perpisahan kelas IX.

    Melalui diskusi dan sosialisasi yang cukup intens dengan para wali kelas, siswa dan guru pun akhirnya menghasilkan sebuah kesepakatan yang telah disetujui bersama. Berikut bunyi kesepakatannya. 

    Pertama, Kegiatan yang dilakukan yaitu setiap perwakilan kelas wajib membuat sebuah kreativitas yang akan dipentaskan pada saat kegiatan perpisahan kelas IX. Kedua, Kegiatan dapat dilakukan secara individu atau kelompok dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Ketiga, kreativitas yang dipentaskan menggunakan alat, bahan, dan kostum seadanya untuk menghemat pengeluaran dana. Keempat, Kegiatan dilaksanakan selama maksimal 10 menit dan dilaksanakan secara acak sesuai dengan nomor undian dan dilaksanakan pada hari Kamis, 10 Juni 2021 di lapangan basket SMP Negeri 2 Gianyar. 

    Selanjutnya kesepakatan tersebut disampaikan kepada anak wali mereka di kelas untuk dilaksanakan lebih lanjut. Selama proses penyusunan kesepakatan kelas, guru sebagai wali selalu meminta siswa untuk menyampaikan ide-ide/gagasan mereka, selanjutnya barulah guru bersama-sama siswa memutuskan hasil diskusinya dan menyepakati secara bersama-sama. Setelah kesepakatan kelas ini selesai dibuat guru menanyakan kembali kepada siswa, apakah siswa siap melaksanakan kesepakatan ini dengan penuh tanggung jawab? Respon mereka sangat antusias, semua siswa menyatakan siap untuk melaksanakan hasil kesepakatan tersebut. Ada beberapa siswa juga yang menyampaikan bahwa siap dikenakan hukuman jika tidak melaksanakan kesepakatan yang telah dibuat. Namun, guru kembali mengingatkan bahwa dalam pelaksanaan kesepakatan bukanlah hukuman yang menjadi fokus utamanya melainkan rasa tanggung jawab siswa terhadap kesepakatan yang telah dibuat dan komitmen siswa untuk melaksanakannya. 

     

    Hasil Aksi Nyata

    Adapun hasil yang diperoleh melalui pelaksanaan aksi nyata ini yaitu sebagai berikut.

    1. Guru dan siswa berhasil membuat sebuah kesepakatan terkait dengan kegiatan perpisahan/pelepasan siswa kelas IX tahun ajaran 2020/2021. Kegiatan diskusi akan dilaksanakan untuk mengisi kekosongan waktu setelah pelaksanaan PAS dan sebelum pembagian rapot. Adapun kegiatan yang dilaksanakan yaitu pentas seni dan kreativitas yang akan diikuti oleh perwakilan guru dan siswa dalam setiap satuan kelas belajar dengan memanfaatkan alat, bahan, dan kostum seadanya untuk menghemat pengeluaran dana namun tetap tidak mengurangi makna.
    2. Guru menyadari bahwa kegiatan ini dilaksanaan dalam kondisi pandemi, untuk itu  kegiatan dapat dilaksanakan secara individu atau kelompok dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
    3. Tingkat keaktifan dan kreativitas warga sekolah menjadi meningkat. Siswa jadi lebih dapat saling menghargai perbedaan, berani mengeluarkan pendapatnya, berani mengeluarkan ide/gagasannya untuk dapat mewujudkan sebuah pentas kreativitas yang inovatif dan menyenangkan.
    4. Seluruh warga sekolah dapat tetap saling menghargai, dan berperilaku baik, serta tetap dapat menjaga lingkungan ditengah kegiatan pentas kreatifitas ini.



    Refleksi Aksi Nyata

    Pelaksanaan aksi nyata ini dapat meningkatkan dan memperdalam hubungan antara guru dengan murid dalam hal mewujudkan sebuah proses pembelajaran karakter yang baik dan menyenangkan bagi siswa. Proses pembelajaran yang menyenangkan dapat lebih bermakna bagi mereka dimana dalam proses ini tidak dapat dapat hanya ditentukan oleh faktor gurunya saja, melainkan diperlukan keterlibatan murid dan stake holder sekolah di dalam menentukan kelancaran dalam setiap proses yang akan dijalankan dalam kegiatan ini. Metode dan perencanaan yang tepat juga menjadi salah satu perhitungan saya sebagai penggagas Visi ini dimana Guru dan siswa wajib membuat sebuah kesepakatan sebelum pelaksanaan kegiatan dimulai dengan tujuan agar siswa dapat tertib dan tetap mematuhi protokol kesehatan serta dapat memaknai dan memahami tujuan pelaksanaan kegiatan perpisahan ini. Selain itu, dengan adanya kesepakatan ini siswa pun akan lebih nyaman dalam mengikuti proses kegiatan pentas kreativitas ini.

    Adapun beberapa kendala yang dialami selama pelaksanaan kegiatan aksi nyata ini yaitu masih adanya beberapa orang siswa yang belum mau aktif berdiskusi saat pembuatan kesepakatan. Selain itu masih ada beberapa orang siswa juga yang tidak mau melaksanakan kesepakatan yang telah disetujui, mulai dari dipilih sebagai perwakilan tapi menolak meski memiliki kemampuan, tetap mengobrol tentang hal pribadi ketika sedang berdiskusi, dan juga mengumpulkan hasil keputusannya melewati batas waktu yang telah disepakati.

     

    Rencana Perbaikan di Masa Mendatang

    Hal-hal yang sudah baik yang telah penulis lakukan selama pelaksanaan aksi nyata ini akan terus dilakukan secara berkelanjutan dan konsisten. Pelaksanaan kegiatan perpisahan ini adalah untuk mengawali perwujudan ketercapaian Visi yang telah dirancang yang nantinya secara bertahap namun tetap konsisten dalam melakukan setiap perubahan-perubahan seperti yang diharapkan pada Visi. Proses perubahan ini tentunya tidak boleh lepas dari psetiap asset yang berperan, bagai rantai makanan yang tentunya akan terjadi ketimpang jika salah satu asset yang berperan menghilang. Maka dari itu sangat diharapkan sekali agar setiap asset baik itu asset utama maupun asset penunjang agar dapat saling berhubungan dan mendukung baik dari segi moril maupun tindakan dalam proses perwujudan Visi yaitu: Terwujudnya generasi masa depan yang berkarakter baik, Gembira (Global diversity, Efektif, Mandiri, Bertanggung jawab, Inovatif, Riang, dan Aktif kreatif) dan cinta lingkungan.

    Saya akan tetap secara konsisten membuat kesepakatan kerja sama dengan setiap asset yang berperan secara bertahap dan terus melakukan evaluasi secara berkala terhadap perwujudan Visi yang telah dibuat agar nantinya dapat disepakati bersama dan dapat dijalankan dengan baik demi Terwujudnya generasi masa depan yang berkarakter baik, Gembira (Global diversity, Efektif, Mandiri, Bertanggung jawab, Inovatif, Riang, dan Aktif kreatif) dan cinta lingkungan.

     

    Dokumentasi Kegiatan

    Berikut beberapa dokumentasi pelaksanaan aksi nyata.

    Foto 1 dan 2: Meminta ijin kepada bapak Kepala SMPN 2 Gianyar dan pemuka agama di sekolah tentang perwujudan visi CGP melalui kegiatan perpisahan kelas IX


     
    Foto 3 dan 4: Sosialisasi tentang perwujudan visi CGP kepada komite dan waka sekolah melalui kegiatan perpisahan kelas IX

    Foto 5 dan 6: Sosialisasi tentang perwujudan visi CGP kepada para wali dan dewan guru di sekolah melalui kegiatan perpisahan kelas IX

    Foto 7 dan 8: Sesi latihan untuk persiapan unjuk kreativitas guru dan siswa di SMPN 2 Gianyar melalui kegiatan perpisahan kelas IX


    Foto 9 dan 10: Siswa melakukan kebersihan dan menanam pohon di sekitar lingkungan sekolah dalam mengisi waktu persiapan unjuk kreativitas di SMPN 2 Gianyar melalui kegiatan perpisahan kelas IX

    Foto 11 dan 12: Kegiatan perpisahan siswa kelas IX yang dilaksanakan secara sederhana melalui penyerahan hadiah bagi peraih juara dan upacara bendera 

    Foto 13 dan 14: Unjuk kreatifitas siswa dalam kegiatan perpisahan siswa kelas IX  

    Foto 15 dan 16: Unjuk kreatifitas siswa dalam kegiatan perpisahan siswa kelas IX

    Foto 17 dan 18: Unjuk kreatifitas siswa dalam kegiatan perpisahan siswa kelas IX


    Foto 19 dan 20: Unjuk kreatifitas siswa dan guru dalam kegiatan perpisahan siswa kelas IX



    Demikianlah hasil aksi nyata pada modul 1.3 visi guru penggerak yang dapat admin bagikan. Semoga bermanfaat.





















    Festival Panen Hasil Belajar

    FESTIVAL PANEN HASIL BELAJAR  PROGRAM PENDIDIKAN GURU PENGGERAK ANGKATAN II PADA KEGIATAN LOKAKARYA KE-7 12-13 NOVEMBER 2021 DI RUMAH LU...